Goresan Digitalku. 

Kedepannya isi blog ini akan banyak goresan digital antara gue dan semua interaksi yang sudah gue alami. Kita emang gak pernah tau hidup kita kaya apa kedepannya, Kita juga gak bisa prediksi kedepannya seperti apa, Untuk itulah tujuan gue nulis digital untuk mengingat semua kejadian nanti setelah gue tua dan jadi hadiah untuk mereka yang berhasil membuat hidup gue berubah dan menyenangkan pastinya. Semoga kalian juga bisa ambil kesimpulan dari tulisan gue. Semoga gue berguna, bermanfaat dan terus belajar seiring berjalannya waktu. Satulagi sih, semoga gue inget dan fasih nulis digital kalau ada waktu. Jadi blog ini berguna dikemudian hari. Tolong ingatkan aku untuk menulis dan memajukan bangsa indonesia dengan kegiatan positif! #SalamLiterasi👍

Notes : Diawal penulisan gue akan berusaha ngepost sebanyak yang gue bisa. Keesokannya lihat apakah ada kegiatan atau sekedar gabut belaka!🌈

With Love, 
Rislita Nindya Indriyani

Titik Temu.

Kau bisa saja bertemu aku di suatu tempat yang kau idam-idamkan lama. Menatap syair syahdu dan remang lampu kerlip ibukota. Bertahta keindahan cakrawala megah dibawah gedung lentera merah. Tak lupa, polaroid yang memajang foto kita berdua dengan menggenggam luka.

Kau bisa saja bertemu aku di antara rindu dan cela ragu yang tersimpul pada teh atau kopi di pagi hari atau malam harimu. Mereka selalu mengingatkan dengan baik bagaimana semburat wajah dan goresan titik simpul bahagia tidak bersyarat memadu harapan terpajang jelas. Tak lupa jangan menaruh pemanis didalamnya lantaran kisah kita memang sebentar saja.

Kau bisa saja bertemu aku di antara lampu trotoar dan indahnya pernak pernik malam. Yang pernah kita lewati bersama atau mungkin pernah bertikai bahkan berdamai dengan perasaan masing-masing. Tanpa mengurangi hakikat senja dan kopi seperti anak anak yang lain, lampu trotoar dan jalanan lebih manis menurutmu.

Kau bisa saja bertemu aku pada sebuah rasa makanan yang pernah kita hampiri bersama. Ingat atau tidak, katamu lebih memabukkan makan malam bersamaku daripada alkohol yang kau minum bersama wanita pujanggamu. Menurutmu, aroma khas makanan yang kita suka makan lebih menarik juga dibanding aroma khas lacurmu.

Kau bisa saja bertemu aku dengan peraduan asap rokok yang terus saja kau hisap hingga rasanya tak manis lagi. Mereka mengajarkanmu memakai lebih baik daripada membiarkannya membusuk sepi. Yang harumnya aku tak pernah suka tetapi sudah mencanduiku hingga ikut masuk didalamnya.

Kau bisa saja bertemu aku di rumah yang kau sebut bukan rumahku tetapi surga bagiku. Waktu senja kita selalu menatap lembayung nya dengan hamparan mata binar dan tatapan indah di biliknya. Menurutmu, mencumbui setiap suasana saat itu terpaut indah bukan hanya indah tetapi terlampau indah.

Tetapi, kau tidak bisa menemui aku lagi. Dengan separuh usiamu, dengan sepanjang usahamu, dengan seluruh peluh yang kau keluarkan tanpa sengaja padaku, dengan luruhnya hatiku. Kita bukan kita sekarang. Aku hanya dapat kau temui sebagai mimpi bukan sebagai hidupmu.

Titik temu pun aku relakan disini. Tempat terakhir kita bersanding dan memangkas seluruh keluh kesah hidup bersama namun tetap saja indah.

Bekasi – Tidak dalam kerinduan, 2019.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Unpopular Song 2018 versi Aku.

1. Alika, Barsena – Andai Bintang
2. Andmesh – Cinta Luar Biasa
3. Meda Kawu – Sendiri Tapi Tak Sepi
4. Agnimaya – Semesta
5. The Overtunes ft Monita Tahalea – Bicara
6. Marcell – Changing Lanes
7. Maria Simorangkir – Yang Terbaik
8. Angsa & Serigala – Menarilah Sendiriku
9. Neola, Nola – Kasih Ibu
10. Fiersa Besari – Garis Terdepan

11. S-Five – Beriku Kesempatan
12. Agatha Suci – Siapa Dia
13. Indrakustik, Arina Ephipania – Stars in Your Eyes
14. North To East – Gelatik Kecilku
15. Agis Bape – You Are The One
16. Semenjana – Tujuannya
17. Pgymy Marmoset – Cerita Tentang Pohon
18. MarchoMarce – Puisi Pagi
19. Sore – Apatis Ria
20. Figura Renata – Gersang

Di Antara Pelupuk Rindu.

Perkenalkan namanya, Rindu. Ia dibuat dari secercah bayang-bayang harap dan sepasang kisah kasih dua hati yang tenggelam. Tidak sampai disitu, ia selalu berpapasan dengan ketidakadaan dan ketidaknyamanan.
Kadang hidupnya terbelenggu nafas dan jiwa-jiwa yang mengelu-elukan rintihan sayang namun terbuang. Rindu pernah bertanya pada hujan perihal itu semua namun dipatahkan oleh derasnya air yang turun tanpa memikirkan keadaan sekitarnya. Egois katanya.

Seringkali rindu bermimpi dan berkhayal tentang kehidupan yang bahagia pula. Tetapi lagi-lagi semesta mematahkannya katanya “Pohonku saja bisa patah dengan mudah apalagi kamu, Rindu” lalu termenung dibuatnya. Seketika itu, rindu pulang dan memikirkannya cukup lama. Memikirkan apakah yang selalu diciptakan di dunia nya tidaklah selalu indah? Apakah semua akan berakhir sia-sia seperti dirinya? Lantas kemana dirinya harus menggembala dan mencari apa maksud dari rindunya sendiri.

Di perjalanan mencari-cari dengan sangat hati-hati. Rindu mendapati banyak sekali terpaan angin dan jalanan licin seolah-olah dia tidak boleh mencobanya. Padahal Rindu tahu Sang Pencipta menciptakan semuanya sudah beserta penawarnya. Tidak sampai disitu, ditengah jalan dia bertemu kemarau dan gugur. Kemarau bilang “Tidak baik terlalu lama dijalanan karena semua akan hilang pada waktunya, Rin” gugur menyahut “Kalau pohonku sudah patah maka daunnya pasti gugur sepertiku” kembalilah Rindu kerumahnya dengan terlunta-lunta.

Seketika itu, hati Rindu memberikan isyarat. Ada baiknya Rindu tidak selalu mencari sebab dirinya lah jawabannya. Hati ini memberi kabar yang tidak dapat Rindu terima begitu saja. Apakah benar dirinya lah jawaban ketidak-tidak yang dia pertanyakan selama ini? Bukannya dia sudah mencari dan bertanya pada semua yang dia temui. Sekalipun itu sebentar. Rindu masih tidak mengakuinya.

Sampai suatu saat, Doa datang pada Rindu. Doa berkata “Sejenak hendaknya kamu berdoa lebih banyak kepada Sang Pencipta” Rindu masih tercengang namun segeralah dia berdoa. Dan Rindu menemukan sebuah keyakinan dari apa yang diperintahkan Doa padanya. Dalam sepertiga malam seperti ini, aku pernah dihantarkan doa oleh orang-orang yang merindukanku. Termasuk harapan dan kecewa mereka berharap diubah menjadi bahagia, kemarau dan gugur diubah menjadi panen dan lebat begitupula hujan ingin bermanfaat bagi yang mengenai airnya.

Doa Rindu memang tidak banyak kala itu. Dia hanya mengucapkan bahagiakanlah aku, Rindu. Dengan segenap rasa yang bercampur dan bersatu padu menghasilkan kesedihan. Tatkala namaku esok berganti menjadi Gia singkatan dari Bahagia. Yang ternyata dapat aku terima dengan seluruh asa dan jiwa yang berseri-seri tiada tara. Benar kata Doa semua ada pada diriku sendiri. Bahkan Sang Pencipta menciptakanku agar aku kokoh pada diriku. Jika aku meminta apapun, agarnya meminta pada Sang Pencipta lalu berusaha bukan mencari-cari hal ketidakpastian pada hidupku.

Nasehat yang selalu kuingat dari sepucuk doa bersama mereka yang selalu merindukan aku, Rindu.

Ternyata di pelupuk rindu— aku berujung pada kematian dan kebahagiaanku sendiri. Yang tidak pernah dihempas waktu dan dirobohkan angin lalu. Terlelap dalam setiap jiwa-jiwa yang mengeluhkan damai, tentram dan nyaman dalam hidupnya. Selamat menikmati, Rindu.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Blank.

Yang aku lakukan sekarang— membahagiakan diriku sendiri atas apa yang sudah aku perjuangkan.

Aku belum menyerah melakukan apa yang aku bisa selagi masih ada kesempatan untukku.

Aku masih menguatkan diriku sendiri atas apa yang sudah kita lewatkan bersama.

Aku terus berkarya, bermanfaat dan berguna bagi mereka yang membutuhkan bahagiaku.

Sejujurnya— aku melakukan apa yang kau acuhkan jika aku tidak bisa sendiri. nyatanya— hingga detik ini aku masih sanggup membangun tubuhku sendiri untuk hidup yang lebih baik.

Jadi, aku masih berusaha disini. berusaha menjatuhkan diriku pada ketidakpastian dan kekecewaan yang membuahkan kebahagian dilain waktu.

Dan Allah SWT beberapa kali mengabulkan itu.
Tidaklah kita wajib bahagia atas perpisahan yang sudah terjadi? Tidak selamanya menyedihkan bukan.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Pintu Keluar.

Sepercik mimpi itu datang kembali
Melucuti setiap darah yang menetes
Menjatuhkan diri yang semakin haus nurani
Melekatkan dengan rusuk yang hampir mati.

Malam kedua pun sama
Menjadi lebih pekat dan tidak terlihat
Terkenang namun harus dilupakan
Separuh jalan aku sudah terpincang-pincang.

Kembali, namun berat kurasakan
Semakin lari semakin terjadi berulang
Semakin gelap, deru malam semakin besar
Tidakkah aku membuka mataku saja.

Saat itu—aku menyadarkan diriku sendiri
Tidak! Semua ini tidak akan terjadi bila aku terus terlelap.
Terlelap tanpa batas dan menghambur keluar.
Mungkin baiknya—tidak bangun selamanya.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Sekadarnya.

Terkadang, sepenggal kisah senja terjadi tidak selalu dalam hal yang indah. Mereka selalu berproses kembali ke alam dan berporos pada waktu yang kembali terus menerus hingga sang sangkakala ditiupkan. Yang kita pahami– banyak hal yang perlu kita perbaiki semakin bertambahnya tahun dan banyak hal yang perlu kita hilangkan semakin berkurangnya umur. Barangkali, nasihat dan kritikan terkadang hanya dilewatkan begitu saja dengan mudahnya. Manusia memang selalu khilaf.

Berterimakasihlah kepada waktu yang sudah memberikan kesempatan dalam kesempitan. Meskipun banyak petaka dan keajaiban yang tidak selalu berdampingan namun selaras berkesinambungan. Kita cukup meyakini bahwasannya Allah SWT telah menjadikan kita hidup bukan untuk tidak bahagia. Tetapi bahagia pada waktunya. Sadarilah, kita memiliki banyak ruang kehidupan yang apik untuk dibagikan walaupun tidak sebaik sejarawan dan ilmuwan.


Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Sepertiga Malam.

Detik jam yang berdentang menyeruak lepas
Tandanya sudah dimulai waktu beserah diri bebas
Merebahkan kegelisahan menengadah hampa
Menghirup kesedihan dan menjatuhkan nurani.

Terkesima akan indahnya hari ini—kerinduan
Jiwa-jiwa yang melayang bersama hampa hadistMu
Melayang-layang bagai angin yg sulit dirasakan
bahkan ketika aku bernafas semua hilang.

Buru-buru memakai mukena sebelum lepas
Terlepas terhempas debuan dunia yang tiada akhir
Terhimpit reruntuhan darah yang tiada usai
Maka aku—menguatkan batinku dengan tegap.

Mungkin hanya waktu ini, detik ini, saat ini
Aku berserah diri. Meminta permohonan terakhir
Bagaimana aku hidup, Kemana lagi aku mengadu
Apakah aku mampu memberikan tempat terakhir?

Sejadinya sepertiga malamku brutal. Terlalu fatal
Isakku terlalu jalang dan tak mampu bangun lagi
Seakan-akan tempat kembali sudah dekat
Lebih lebih dari hadist pendekat Allah hanya nadi.

Sekiranya bisa aku memohon dan menangis lagi
Meracau lagi dan menghancurkan imajiMu lagi
Bisakah saja kita dipertemukan tidak hanya sekarang
Tetapi sampai seterusnya hingga ajal mendekat.

Bismillah. Izinkan aku bersamamu hingga ajalku semakin dekat.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.