Antara Manusia dan Jarak. 

Di saat manusia dan jarak berteman sejati penuh mimpi meraih cinta sejati. 

Manusia : “Kisahku dan engkau akan terus berjalan pada porosnya walaupun banyak dilanda kerinduan dan kerapuhan. Kenyataannya, jika jarak dapat bertanya dan menjawab aku akan merasa lega. Setidaknya mereka sendiri mengerti mengapa mereka diciptakan dalam sebuah asmara bukan hanya sebagai pembatas namun memiliki intim dan kekuatan yang luar biasa. Terimakasih, Jarak.”


[1] ​Tanyaku, Jarak.

Bayanganmu terus ada

Menghampiri disetiap rasa

Apakah kau hanya sengaja? 

Atau hanya aku yang terkesima?


Auramu terus menggema

Relungku selalu menerima

Apakah kau hanya sengaja? 

Atau hanya aku yang terpana? 


Pada intinya, 

Rasaku dan kau sungguhlah fana

Bila selalu ada jarak diantara kita

Entah sampai kapan mengemban asa

Aku lelah menantinya. 


[2] Pintaku; Jarak. 

Sekian lama menanti hari

Namun tak sampai hati

Serpihan ruang jadi saksi

Antara dua insan menyendiri. 


Tidak banyak mau kami

Bertemu untuk sebuah janji

Yang terkadang sulit dipahami

Namun sakral dalam nadi. 


Sejadinya sulit dipenuhi

Alangkah indah doa terpantri

Walaupun secuil mimpi

Terucap kelu dini hari.


Terlukis indah pribadi

Pun rasa rindu meniti perih

Pinta kami hanya ini

Bertemu merajut mimpi. 


Jarak
: “Tak apa wahai Tuan dan Puan tercinta. Maafkan aku sudah berlaku kejam pada kalian. Sebab tanpa jarak, kalian akan selalu bersama. Tanpa jarak, kalian akan dipersatukan. Walaupun aku mengerti Takdir Tuhan adalah yang terbaik namun, setidaknya aku sudah berusaha yang terbaik untuk menjaga perasaan dan kerinduan kalian. Terimakasih, Puan dan Tuan”



With Love, Rislita Nindya Indriyani. 

Kita—Luka yang Tersisa. 

Pagi ini matahari sudah di penghujung petang. Aku masih saja mencoba memikirkan sebuah kisah pilu yang tidak mungkin terlupakan dalam benakku. Walaupun senja sudah menunggu untuk aku pergi darinya, aku tetap tidak bisa pergi dari bayangan kelamnya. Ia bagaikan angin yang berhembus yang melewatiku. Tidak dapat ku-genggam dan ku-raih. Sulit kupahami dengan hatiku sendiri.

Aku terbangun untuk mengingat kenangan terlampau lalu yang sulit kulupakan. Aku masih terbayang akan entahlah aku tidak mengerti. Ini kesalahanku atau kesalahannya. Yang aku tahu bahwa hatiku kelu seperti ditusuk pisau tajam dimalam yang pilu. Aku merasakan itu sendirian. Bahkan bercerita dengan sahabatku tidak. Aku hanya ingin namanya baik walaupun sudah tidak dapat bersama.

Sejenak aku bercermin dikaca kamar tidurku. Berdiri tegap dan menatap diriku sendiri, Iya diriku sendiri. Aku mencoba mengulang kisah lamaku bersamanya. Masih terus mengulang dan terus berusaha mengingat. Aku merasa seperti pohon yang hidup tanpa buah, tanpa air, tanpa disinggahi hewan lain bahkan tanpa cahaya matahari. Sudah terlampau kering hati.

Tetapi aku terus membayangkan kisah-kisah kenangan terdahulu. Masih saja aku mengingat kebaikanmu, canda-tawamu, komentarmu dan tentu halus tanganmu ketika berjanji untuk selalu bersama walaupun tidak dalam ikatan lagi. Rasanya semua adalah mimpi ketika kita—harus terpisah karena sebuah alasan tolol yang dilakukan oleh orang lain.

Perpisahan—yang tidak pernah aku sebut kebahagiaan itu datang lantaran orang lain mengolok-olok kisah lamaku dan kisah lamanya. Mereka membandingkan dan menilai dengan tidak bijaksana. Aku hanya bisa menertawakan diriku sendiri sambil berkata jalang pada diriku sendiri akibatnya. Mereka tetap saja selalu mengusik kehidupanku bersamanya.

Lambat laun berapa waktu sudah berjalan. Kisahku tetaplah sebuah luka mendalam yang tidak mungkin dapat digantikan malam. Lukamu dan lukaku sama bahwasannya kamu lebih siap menerima apa yang orang lain katakan, sementara aku tidak. Aku bahkan tidak dapat berdamai dengan diriku sendiri ketika itu. Aku merasa kesalahanku atau kesalahanmu sungguh hina dan sangat buruk rupa. 

Kini, saat semuanya sudah berubah dan menghilang begitu saja. Walaupun aku ingat jelas kenangan terpuruk akan hidup bersamamu. Aku masih paham bagaimana merasakan sebuah luka dengan bahagia. Menghitung asa walaupun sia-sia dan menjawab tanya walaupun sudah tidak akan ada masa bersama. Semua sudah menjadi bagian kenangan yang kututup rapi dalam perapian hati.

Kita—adalah Luka Yang Tersisa.


Diterpa angin tiada tara,

Menjanjikan sebuah syurga, 

Terus berharap meski tak terduga.


Dihunus pedang tak terhingga, 

Menghancurkan seluruh rasa, 

Hingga nurani tertutup kabut jelaga.


Luka tetaplah sebuah luka, 

Hentikan sakitnya sangat hina, 

Nantinya akan membusuk bersama.


Setiap jiwa memiliki luka, 

Meski harus menahan bekasnya, 

Luka selalu bersama jiwa. 


Dan kita adalah luka yang terisa, 

Disela harapan dan impian belaka, 

Menembus retorika cinta.


[NOTES. Harapan itu sudah tidak ada. Silahkan berbahagia dengan kehidupan baru-mu. Akupun juga sama, kembali menata kehidupan baru-ku. Thanks M. Akbar Putra for the journey selama kita bareng dulu. Terimakasih sudah jadi inspirasi gue hari ini😂🌸] 


With Love, 

Rislita Nindya Indriyani. 

Puspa Melati. 

PERTAMA.

[Ruang Cinta Puspa]

Keindahan surgawi yang disuguhkan begitu sangat jelas tergambar padanya. Nusantara pun kagum dengan keindahan yang terpancar pada dirinya. Tatkala banyak jiwa yang ingin mencoba menjadi sepertinya namun masih mengukir asa. Senantiasa meniti cita dan rasa menjadi sebuah puspa yang bersatu dengan negeri-nya. Semua hampir mengaguminya, termasuk aku dan kalian para penikmat kesegaran nusantara.

Puspa melati merunduk dalam setiap jiwa segara yang hidup dalam fana. Harumnya semerbak tatkala hujan meluruhkan kokohnya ranting dahannya. Melambangkan kesucian bathin, keagungan yang sederhana, dan ketulusan nurani. Selain itu, mewujudkan adanya rasa cinta dan kasih dalam kesederhanaan dan kebaikan hati untuk sama-sama menjadi penerus puspa bangsa yang sempurna kelak.

Seperti aku yang menghargai karya Lagu patriotik “Melati di Tapal Batas” karya Ismail Marzuki dan “Melati Suci” karya Guruh Sukarnoputra menggambarkan melati sebagai pahlawan yang gugur di medan perjuangan, yang harumnya senantiasa hadir sebagai kusuma yang menghiasi Ibu Pertiwi. Lagu “Melati dari Jayagiri” karya Iwan Abdurachman mengibaratkan melati sebagai kecantikan seorang gadis suci dan cinta masa lalu yang telah hilang dan senantiasa dirindukan. Aku mencintai puspa-ku sedemikian sederhana dengan segala kekurangan yang aku miliki. Aku mencintainya dengan segenap hatiku.

KEDUA.

[Filosofi Sang Puspa]

Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya hingga menutup warna kelopaknya. Warnanya tetaplah putih walau terseka debu kotor dan hina. Terus berseri dan memukau sejiwa bahkan terlupakan yang lainnya. Memberikan arti bahwa ia tidak akan pernah kecewa untuk hidup berdampingan bersama keburukan jiwa.

Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu- debu itu agar ia tetap putih berseri. Tertiup ke-kanan dan ke-kiri tanpa pernah tahu kemana ia terbawa. Terombang-ambing dengan kerasnya tanpa pernah tahu akhir perjalanannya. Meskipun sebegitu hebatnya diterpa angin, ia tetap berdiri kokoh sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada jiwa yang mencintainya.

Pada hujan ia menangis agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Ia seakan tak pernah lupa untuk bersyukur bahwa hidup tidaklah selalu bahagia, ada kalanya hampa dan risau melanda. Namun tetaplah sama, sebuah jiwa tidak akan pernah lupa untuk berserah pada Sang Pencipta.

Pada tangkai ia bersandar agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya agar kelak, Apapun cobaan yang datang, Ia dengan sabar dan suka cita menerima, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih mereka yang tidak pernah terlupakan dalam diri dan Sang Pencipta.

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Semoga semua tidak pernah berubah sikapnya. Walaupun tidak selamanya alam merestui hijau sebagai yang utama, terkadang bisa kuning sama cokelat lantaran kekurangan cahaya. Sekali lagi sama, ia tidak ingin merubah dirinya menjadi yang lain. Ia hanya ingin dirinya apa adanya dan menerima hakikatnya.

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Sejadinya hidup memang penuh warna dan rasa. Tidak perlu memusuhi akan perbedaan yang ada. Seperti Bhineka Tunggal Ika, begitulah Kuasa Puspa Melati sesungguhnya. Selaras dengan jati dirinya untuk memajukan nusantara dan jiwa yang hidup dengannya.

Bekasi, 7 Juni 2017.

Ada harapan tersurat dalam tulisanku yakni bisakah kita saling mencintai walaupun banyak perbedaan diantara kita. Seharusnya kita memajukan bangsa bukan meruntuhkan bangsa kita sendiri dengan perbedaan yang ada. Seperti melati dengan segala kekurangan dan kelebihannya menjadi Puspa Bangsa. Keep positive vibes all the way.

With Love,
Rislita Nindya Indriyani

Menjadi Dewasa. 

Terlihat baik dalam segala hal kehidupan 

Terlihat sedikit hal yang dapat dipamerkan

Aku tumbuh lebih tinggi untuk sekarang

Tetapi hal yang dapat aku pamerkan menghilang.


Ketika aku berjalan ditengah malam semu

Bintang-bintang yang dahulu selalu mengikutiku

Sekarang tidak pernah bersinar lagi

Aku hanya tumbuh lebih tinggi dan tinggi. 


Anak-anak yang tersenyum dalam asa

Kemana pergi melangkah mereka 

Mereka sudah dikatakan dewasa 

Apa itu tentang tersenyum ketika hampa


Melihat diriku tergambar didepan kaca

Dapatkah aku mengenali diriku seadanya 

Melihat bagaimana aku dapat berada di dunia

Walaupun aku selalu berkata belum dewasa. 


Orang-orang selalu bilang aku sudah dewasa

Tetapi sebagian hal membesar dan mengecil

Mereka selalu keras mengatakan dewasa

Tetapi mengapa aku merasa aku masih kecil. 


Aku akan mengerti lambat laun nantinya

Untuk sekarang aku belum merasakannya

Hidup setiap hari dengan ketidakpastian masa

Apa itu yang dimaksud dengan dewasa? 


Kehidupan itu aku fikir dapat merangkai asa

Setelah jauh berjalan sangat banyak hari tersisa

Entah bagaimana menyelesaikannya

Jadi apa kalian berfikir sudah dewasa?


Cipinang Indah, 6 Juni 2017

Dalam mimpi menjadi anak kecil yang buta akan artinya pendewasaan diri. 

Rislita Nindya Indriyani. 

Untukmu Yang Berusaha Melupakan. 

Tengoklah pagimu dikemudian hari. Sinarilah mereka dengan kasih sayangmu. Jangan biarkan mereka sepertimu, hancur bagai kapal Van Der Wijck yang dipecah lautan. Mereka layak  mendapatkan ketulusanmu dibandingkan segalanya. Tanpa pagi kamu tidak akan melanjutkan hari-hari ajaibmu. 

Bergegaslah mengatur seluruh masa depanmu. Rayakan kesedihanmu dengan berbagi hati kepada mereka yang kurang cinta kasih. Agaknya melegakan daripada harus menyayat nurani sendiri dengan melupakan mereka. Tidaklah kamu enggan menoleh kebelakang dan mengeluh lantaran pesakitan yang diterima. 

Bersiagalah menerima semua yang akan terjadi. Entah cumbuan aurora yang membuatmu ingin kembali padanya atau kemarahan atmosfer langit yang menyuruhmu ingin melupakannya dengan cepat. Jangan biarkan mereka melakukannya. Jika sudah melupakan, belajarlah seperti bulan dan bintang yang selalu menemani tanpa meminta langit untuk tersenyum kepadanya. Begitupula kamu.

Hatimu akan lebih kuat daripada biasanya. Luka tidak menjadikan kamu lupa akan pahitnya hidup. Luka membuatmu semakin kokoh berdiri dalam kelamnya dunia. Memang kamu terlupakan namun hatimu tidak pernah terlupa. Hatimu masih tertutup kesucian bathinmu. Hatimu masih sanggup menerima takdir daripada menyumpahi takdir. Pun logikamu masih memiliki akal untuk mencapai bahagia daripada kecewa. 

Semangatlah meraih impian dan harapanmu. Terus berlari walaupun kakimu terseret-seret luka. Terus belajar walaupun keringatmu sama sekali tidak membuahkan cita. Tetapi ingat, Bahwasannya Tuhan memberikan kita banyak cela disudut kota bukan untuk mengasihani diri sendiri namun berbahagia. Lantaran kita memiliki cinta walaupun sering terlupa. Senantiasalah berdoa kepada Tuhan agar cintamu tidak terlupakan dan melupakan takdirnya. 

Dari aku yang sudah pernah terlupa, 

Bekasi Utara, 31 Mei 2017

Rislita Nindya Indriyani. 

Masaku;Sekarang. 

Bagai memakan buah simalakama

Beranak pinak namun tidak berbidan

Tiada pisah antara antah dan beras

Begitulah peribahasa kehidupan.

Air bersih lebih langka daripada airmata

Nafas yang dihirup harus dibeli tidak percuma

Pohon-pohon yang tumbuh pun layu

Apalagi bunga yang semakin merunduk lesu.

Kejujuran sudah hilang dan tidak bersisa

Manusia yang hidup tanpa hati nurani

Benci dan dendam tentu kewajiban

Menyakiti terasa semakin nyaman.

Senyuman pun lebih langka daripada amarah

Bahagia selalu mengalah pada kecewa

Nyawa yang ada nyaris tak berharga

Bahkan dunia merintih dan terus terluka.

Betapa hancurnya masaku

Terapung tak hanyut tenggelam tak basah

Belum paham akhir kesudahannya

Hanya bisa merintih lirih dan tertekuk lesu.

Seharusnya kalian bertaubat dari dosa

Bukankah ini isyarat kehancuran dunia

Menggema syahdu dalam angan manusia

Cepat atau lambat ditelan usia senja.

Lalu bagaimana bertahan dalam dunia fana

Sungguh semua membuat hati semakin lara

Tatkala matahari yang tak terlihat sinarnya

Semoga Tuhan mengetuk hati manusia.


Cipinang Indah, 30 Mei 2017.
Rislita Nindya Indriyani

Mengapa Harus Perempuan?


Berhembus angin tanpa tahu arah kemana akan mengembara, 
Membangun sejiwa yang haus akan alkisah kehidupan belaka, 

Keinginan terbesarnya adalah menguasai dunia dengan segala keterbatasannya, 

Tanpa mengabaikan rasa cinta dan jiwanya sendiri.


Semua berawal dari mimpi yang tak henti menghampiri setiap hari, 

Hanya diri sendiri yang mampu mewujudkan harapan dan impian hati, 

Semua ditanggung dengan segala pengorbanan yang teramat suci, 

Berjuang tanpa lelah diantara hidup dan mati.


Aksara yang mengalun dan menari di negeri awan sangat menawan, 

Terukir jelas bahwa tercipta banyak mimpi dan harapan yang didoakan, 

Mengapa harus selalu perempuan, 

Mereka hanya tidak ingin menjadi budak dunia yang tertutup kegelapan dan kebodohan.


Pohon ilalang yang tercerai berai pun mengalunkan alunan melodi syahdu, 

Seolah alam memberikan isyarat restu untuk terus mengetuk dunia, 

Mengolah pribadi yang terus memperbaiki kehidupan dunia semu, 

Agar menjadi perempuan yang berguna bagi nusa dan bangsa. 


Rabu, 24 Mei 2017.

Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Dalam keheningan malam saat mengingat perjuanganku untuk melanjutkan hidup. 

Rislita Nindya Indriyani.