Doa Terakhir. 

Sejenak aku pernah berfikir akan apa yang sudah aku lakukan bersamamu. Tentang perjalanan, cinta, masa sekarang sampai masa depan kelak. Aku selalu berusaha sekuat kakiku untuk berdiri sendiri tanpa bantuanmu. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu mendirikan diriku sendiri dalam keterpurukan seburuk apapun. Aku meyakini dengan seyakin-yakinnya pada diriku sendiri saat itu. Entah besok, aku masih berfikir panjang untuk memikirkannya.


Kenyataannya, aku kalah akan waktu dan harapan. Terkadang, aku melupakan mereka yang berusah mati-matian berjuang agar aku bahagia sentosa. Aku membohongi mereka bahwasannya aku bahagia hanya dengan dirimu saja. Terkadang aku—pun luput oleh kesalahan kepada mereka yang sudah lama menantiku di pintu masa depan bersama mereka. Sejujurnya—aku lemah bersamamu.


Pernah terfikir olehku untuk melupakanmu dan memperbaiki hidupku selanjutnya. Aku ingin mereka mengetahui bahwa aku bisa dengan caraku sendiri bukan karenamu. Aku memang terlalu naif untuk ini. Aku memang tidak pantas berkata seperti ini. Namun, sikapmu akhir-akhir ini membuatku yakin bahwasannya kita—memang seharusnya tidak bersama saat seperti ini.


Kenyataannya, kamu masih saja memperdulikan mereka yang tidak begitu peduli pada hidupmu. Kamu adalah pemimpin bagi mereka dan aku hanya berusaha menopangmu. Aku—tongkatmu saja, tidak lain dan tidak bukan hanya sanggup menopang. Aku mulai terlupakan seiring berjalannya waktu. Aku hanyalah seonggok manusia yang penuh pengharapan akan kasihmu saja sekarang.


Ada yang membuatku yakin untuk berkata seperti itu. Sampai pada akhirnya—kamu sendiri yang memberikan petuah padaku “Berhenti untuk berusaha membuatku bahagia, Aku sudah bahagia dengan mereka. Aku hanya menghindarimu sebentar”. Setelah jarak, diksi—pun menjauhkan kita. Aku bahkan yakin kita berkesudahan. Kita—hanyalah manusia yang berusaha membuat orang lain bahagia dan melupakan diri kita.


Seharusnya—semua ini tidak perlu. Kamu tidak perlu menghindariku dan aku tidak perlu menunggu kepastianmu lagi padaku. Namun, hatiku berkata lain. Aku yakin dan sangat yakin, suatu saat kamu masih membutuhkan aku. Sebagaimana-pun kita pernah menjadi bagian keluarga, sulit untuk menghindarimu. Bukan aku tidak ikhlas, bukan aku hanya memelas, bukan. Aku hanya menginginkan kamu bahagia dengan baik.


Yang aku sesalkan—mengapa kamu harus menjadi bagian mereka? Seolah-olah mereka merebutmu dari hidupku. Kamu sibuk mengurusi mereka dan melupakan aku yang masih saja—mencari kepastian. Aku bahkan lelah ditertawakan sayup-sayup angin karena menunggu orang sepertimu. Hatiku sakit ketika kita—harus terpisah. Aku belum merelakan sepenuhnya. Aku masih saja—merindukanmu.


Kenyataannya, aku dan kamu hanya bisa berdoa pada akhirnya. Berdoa pada Yang Maha Pencipta agar kembali dipertemukan. Walaupun tidak dapat bersama—lagi. Aku masih berharap bisa bersahabat denganmu. Setidaknya aku berusaha baik dan menerima apa yang sudah menjadi takdirku sekarang. Aku tidak menyesal memutuskan semuanya. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Dan aku hanya berharap pada Doa Terakhirku. Terakhir aku berharap kamu pun sama, menjadikan aku Doa Terakhirmu. 


Best Regrads, 
Rislita Nindya Indriyani. 

Perjalanan Waktu. 

/1/

Waktu selalu menyembunyikan segenap perasaan yang dirasakan. Bahkan beberapa kali waktu menghilangkan dengan segala kekuatan yang ia miliki. Seringkali terlupakan dengan sekejap bersama waktu. Tidak cepat namun kerjanya bagaikan detik yang berjalan sepersekian lebih cepat dengan cara berjalanmu. 


/2/

Waktu terkadang kejam akan hati nurani pribadi. Bayangkan bahwasannya ia dapat membakar semua perjalanan indah bersama orang-orang yang mencintaimu. Seakan-akan dunia sudah berakhir dan tiada akan ada terulang kembali. Terlalu singkat untuk dihilangkan namun berat untuk difikirkan dengan hatimu.


/3/

Waktu dapat merubah semua yang ada dalam hidupmu dengan caranya sendiri. Tak ayal ia merubah semuanya seperti roda yang berputar dengan kecepatan sepersekian detik dalam laju seratus meter. Bisa dibayangkan betapa menyedihkan dan menyesakkan hati. Sekali lagi, mudah dilalui tetapi tidak bisa dikerjakan oleh hati nuranimu. 


/4/

Namun menyadari akan semua yang sudah dilakukan waktu. Percayalah bahwa dalam detiknya mengajarkan keikhlasan melupakan semua kenangan yang ada. Menitnya memberikan arti bahwa hidup tidak cukup dengan selalu bahagia. Setiap jamnya menafsirkan kehidupan yang selalu berputar.


/5/

Bayangkan jika waktu tidak hadir dalam hidupmu. Hanya ada logika dan hati yang berputar pada porosnya dengan kuat. Hanya ada sekumpulan manusia yang berusaha berjuang atas hidupnya. Tak ada kesakitan dan pesakitan yang meluruh seiring ia berjalan. Bersinar terang benderang bagaikan bintang namun kelam.


/6/

Memang tidak mudah memberikan celah waktu untuk tetap terus bergerak maju agar hidupmu baru. Seraya terus berdoa pada Tuhanmu untuk selalu bahagiakan hidupmu. Selagi waktu masih bergerak maju dan terus melaju dengan sebuah tuju. Percayalah waktumu—waktuku tidak akan berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan.


Best Regrads, 

Rislita Nindya Indriyani 

Tanpa Mencinta

Pernah kusebut namamu dalam setiap doa-doa malamku;

Namun tiada yang bisa aku hentikan ketika takdir sudah berjalan

Percayalah bahwasannya kamu bermakna untuk orang lain, bukan hanya—Aku.


Hanya saja hatimu masih bertahan untuk memiliku;

Tidak perlu bertahan untuk orang sepertiku

Aku hanyalah manusia, sama dengan kebanyakan perempuan yang lainnya.


Penuhilah malam-malammu dengan banyak doa;

Sekiranya boleh mintalah agar Tuhan memberikanmu sedikit kebahagiaan

Karena aku paham—mencintai tanpa dicintai.



Best Regrads, 

Rislita Nindya Indriyani 

20 Detik

Dalam waktu yang berjalan sangat cepat, 

Nafasmu dideru kerasnya ombak panggilan namamu sendiri,

Angin yang berhembus juga turut mengikuti kemauanmu, 

Bahkan detak jantungmu begitu cepat berdetak,

Semuanya seakan mengerti akan hal yang akan kau temui nantinya.


Perjalanan hidup tidak selalu seperti yang kau harapkan, 

Mereka terkadang tidak sama sekali berpihak padamu, 

Justru mereka menghilangkan dirimu sendiri, 

Ditengah badai cobaan yang bertubi-tubi, 

Kenyataannya, terkadang kau mengalami luka walaupun selalu bahagia.


Terkadang semua ditentukan dengan 20 detik, 

Bagaimana mengambil keputusan yang tersisa, 

Merasakan perubahan lingkungan yang selalu bergejolak tanpa kau rasa, 

Melihat kejadian yang tidak seharusnya kau nikmati begitu saja, 

Menunjuk sebuah saksi untuk menyelesaikan sebuah perkara, 

Mustahil terkejar dengan 20 detik saja.


Namun, semua adalah keajaiban yang Tuhan berikan, 

Anugrah dan berkah tidak dapat ditukar dan diberikan dengan mudah, 

Sekeras hati kau ingin takdir seperti mereka—yang membencimu, 

Sekuat hati kau ingin menarik semua penyesalan yang sudah terjadi,

Tidak akan berubah jua dalam 20 detik. 


Pahamilah kawan, 

Sejadinya 20 detik adalah keputusan tersingkat, 

Yang berisi banyak percobaan dan pergolakan hebat, 

Tak ayal terasat sungguh dan amat berat, 

Sekalipun sudah terasa amat menyanyat, 

Baik dan buruknya adalah hikayat,

Sebuah takdir dan harapan bagi sejuta umat.

Best Regrads, 
Rislita Nindya Indriyani