Janji Suci. 

Ada saatnya, kakiku dan kakimu lelah untuk terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tidak berujung. Banyak belokan dan sekitaran masih terasa gersang untuk disinggahi. Namun, aku selalu merindukan bagaimana kita berusaha mencapai titik selaras dalam hidup menuju rumah bersama—rumahku, rumahmu. 

Sejadinya, tempat terbaik selama aku hidup hanyalah kembali pada rumahku. Begitupula dengan kamu. Tidak ada yang dapat menerangi kesedihan, menghilangkan gundah ataupun merayakan sesak tanpa kehangatan salah satu sudut rumah yang sudah usang namun tetap menjadi utama. Rumahku, Rumahmu. 

Sejak kecil aku—kamu mempercayakan pemilik hati hanyalah ayah dan bunda. Tidak ada yang rela dan tulus sebaik mereka. Tidak ada yang berani kehilangan seperti mereka. Tidak ada yang kuat menahan rindu seperti mereka. Dan tidak ada yang sanggup menjadi akar kehidupan seperti mereka. Kita sama, sama-sama merindukannya namun harus melepaskannya.  

Seiring berjalannya waktu, kita menua dan hidup bersama. Sepanjang jalan juga, kita bertautan untuk selalu berdoa dapat menjadikan ayah bunda sebagai contoh kehidupan yang abadi. Tidak pernah putus kasih sayangnya, Tidak pernah henti doa-doanya. Kita sama, sama-sama berusaha menuju kehidupan selanjutnya. 

Sebentar lagi, mungkin masih menghitung tahun aku akan menjadi tamu rumahmu, pun kamu memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahku untuk mengikrarkan sebuah janji suci yang sakral dengan tegap dan tegas. Semua akan berubah dari sini menjadi kesatuan yang utuh. Antara keluargaku, keluargamu. 

Karunia Sang Pencipta memang tidak dapat ditebak oleh siapapun yang berusaha mencari. Hanya dapat didoakan dengan khidmat mungkin akan menunjukkan cahaya petunjuk ketika sudah saatnya. Begitupula hubungan berkelit yang sudah aku—kamu jalani berapa tahun silam. Walaupun penuh ujian namun terbayarkan. Kamu dan aku menjadi satu. Satuku, Satumu. 

Kamu menjanjikan bahwasannya seorang laki-laki atau imam yang dapat bertanggung jawab, berpendidikan, kuat iman, setia dan sholeh serta kekayaan yang sederhana. Sementara aku hanya menjanjikan kesetiaan dan pertanggungjawaban sebagai seorang makmum untuk imamnya dan keluarganya kelak. Kita hanya manusia yang berusaha berjanji seraya menepati ikrar yang terucap nantinya. Ikrarku, Ikrarmu. 

Sejadinya—kita bukanlah yang pertama merasakan indah cinta. Kita juga bukan yang pertama merasakan nikmat cinta seperti adam dan hawa. Namun kalau boleh kita menjadi penerus adam dan hawa dalam mahligai suci nantinya. Semoga kita bukan hanya sebuah kesemogaan yang sementara. Semoga kita terucap dalam janji suci dihadapan Sang Pencipta. 

Best Regrads, 

Rislita Nindya Indriyani. 

Raya Cinta. 

Pada suatu ketika aku tersadarkan atas cinta yang sudah aku jalankan sampai sekarang. Ternyata mereka tidak benar-benar selalu memberikan ceria. Terkadang hampa dan semakin sesak untuk mengingatnya. Namun, banyak fikiran yang membuatku goyah untuk mengulangi setiap kisahnya tentu dengan banyak prasangka. Walaupun setiap arti dan kisah berbeda. 

Cinta memang perkara sederhana. Se-sederhana aku berkata “iya” saat kamu menanyakan bahwa kamu mencintaiku. Se-sederhana kamu menyapaku dengan lembut ditemani nuansa bening rumah kala itu. Se-sederhana kita merayakan hari jadi ke-sekian bulan kita terikat dalam sebuah hubungan berkelit yang dinamakan cinta. 

Namun, cinta juga perkara sulit. Sesulit aku memilih kebahgiaan sahabatku atau kamu, Sesulit kamu memilih hobimu atau memperdulikan keluh-kesahku. Dan sesulit kita yang terkadang tidak bisa terpaku pada keputusan yang berbeda. Memang tidak mudah untuk berada dijalur yang sama dan terus bersama pada keadaan sulit sekalipun cinta. 

Jadi bagaimana? 

Apa seharusnya cinta itu mudah-mudah saja? Ataukah harus selalu sulit? 

Hingga hidupmu sendiri penuh dalil-dalil yang mencoba mengerti akan semua ini. Seorang penulis dengan diksi yang penuh-pun seringkali masih saja memikirkan arti dari cinta itu sendiri. Yang mereka mengerti adalah “Tanpa cinta dan kasih, Karya mereka bukanlah apa-apa”. Bagaimana dengan dirimu sendiri? 

Banyak novel bahkan cerpen hingga kalimat-kalimat puitis yang menyatakan tentang cinta dan seluk beluknya. Namun, itu semua hanyalah tulisan belaka. Kamu tidak akan pernah merasakannya sampai kamu terhimpit masalah yang sama dan kembali mengulang buku bahkan memberikan penanda pada sebuah halaman yang sesuai dengan kejadianmu. 

Bahkan, tidak jarang anak remaja sekarang mengeluhkan soal cinta yang terkadang tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Mereka bahkan masih saja memiliki ego untuk mempertahankan keputusan yang dibuat tanpa melihat orang lain. Yang mereka paham adalah “Cinta berarti siap menerima dan memberikan serta siap tersakiti karena kebaikan”. 

Terkadang hidup ini keras. Sekeras besi yang tidak dengan mudah kamu patahkan, sekeras anganmu ketika ingin menginginkan sebuah keinginan. Hatimu tidak akan sanggup mengikuti arah yang terus melintang bersama nusantara. Semakin kamu memaksakan apa yang menjadi keinginanmu, semakin keinginan itu menjauh. Bukan karena tidak ingin tetapi karena sakit.

Terkadang hidup ini juga lemah. Selemah tanah yang terkena tetesan air dari hujan yang turun terus menerus. Mengikis dan semakin hilang arah. Hatimu tentu tidak sanggup untuk berdiam diri didalam kegelisahan yang tidak tahu akan berjalan sampai kapan. Semakin kamu lemah dan tidak berdaya, kamu akan semakin terpuruk dalam keadaan yang berkelit dan sulit. 

Jadi bagaimana sebaiknya aku memperbaiki semua kekurangan ini? 

Bagaimana aku bertahan hidup ditengah kegelisahan yang ada? 

Sekalipun—kamu mencoba untuk meyakinkan aku. Bahwasannya kita tidak terlahir dengan sempurna. Sekalipun—aku berusaha keras menerima semua perkataanmu dengan hati nuraniku sendiri. Terkadang orang lain bahkan sahabatmu sendiri yang menggoyahkan fikiranku. 

Sejadinya—kita tidak selalu bersama. Raya cintamu akan tetap utuh pada hati nuraniku. Selebihnya—kita mengerti sebuah kisah baik dan buruk adanya. Tetap raya cintamu berpegang teguh pada dirimu sendiri. Bagaimana kamu menghargai mereka dan aku sebagaimana kamu menghargai alam nusantara di bumi. 

Best Regrads, 

Rislita Nindya Indriyani. 

Sejenak Bersama Kenangan. 

Lelah untuk menutupi betapa aku merindukan setiap kenangan yang sudah pernah ada,

Mirisnya orang-orang yang berada bersamaku dahulu sudah hilang, 

Bukan hilang ditelan bumi namun hilang, sudah tidak dapat bersama dengan ragaku kembali. 


Terkadang merindu perihal kenangan tidak pernah salah bahkan kalah, 

Bukan untuk itu melainkan untuk merasakan kebahagiaan saat bersama mereka, 

Yang dahulu selalu menerima semua keluh kesah tanpa pamrih dan memperlakukan ramah, 

Yang dahulu datang selalu bersama keceriaan bukan kepasrahan.


Sejenak kenangan itu membahagiakan, 

Merasakan dan melebur bersama satu hati dan fikiran bersama mereka,

Yang ada disana adalah bagaimana aku bisa bahagia dengan mereka, 

Bukan berfikir untuk berdiri sendiri dan mempertaruhkan nyawa sendiri untuk diri sendiri, seperti sekarang.


Memeluk kenangan bukan hanya untuk mengingat masa lalu, hei kawan, 

Sejenak mengingat kenangan untuk melihat sudah sejauh mana kita berdiri, 

Sejauh mana kita bertahan dan mampu melalui segala beban hidup di dunia ini, 

Persetan dengan pelbagai masa lalu yang hanya menjadi angin lalu bagiku.

Best Regrads, 

Rislita Nindya Indriyani.