Es Kopi di Ruang Tunggu.

Menunggumu sungguh membosankan,
Tidak jarang lupa bahwa waktu berjalan,
Kursi reot yang kutempati berbunyi bisik.

Aku disuguhkan kopi yang dingin,
Melebihi dinginnya musim dingin meradang,
Aku lebih suka es kopi dingin tidak sedingin kamu.

Bagaimana caranya agar tidak dingin lagi,
Rasanya aku kehilangan mantelku,
Rasanya aku harus segera pulang ke rumahku.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Bungkam.

Nyaris mati
Hati nurani
Sibuk cari
Kesana-kesini.

Perihal cinta
Mati hampa
Dijagal asa
Meski luka.

Perihal hidup
Setengah redup
Kadang murka
Kadang bahagia.

Bungkam
Tak ada jawaban
Cuitan kepastian
Walau lebam.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Mati Hati.

Sunyi senyap melaju
Diburu waktu tak tentu
Hidup beralaskan kayu
Suara harapan kaku.

Tidak gentar dan mati
Semangat ber-api – api
Walaupun dihunus belati
Selalu taat mengingkari.

Anak-anak menghampiri
Tak lekas mengerti
Berharap nyali kembali
Menerangi nurani.

Nyatanya sekarang asli
Bukan hanya sekedar basa-basi
Tak jarang tak peduli
Anak-anak mati hati.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Surat Untukmu, Soehardjo.

Tidak banyak kisah kita semasa hidup bersama dan bertemu. Aku hanya berusaha mengenang sosokmu yang kerap disapa “mbah kakung”. Sosokmu dikenal keluarga sebagai orang yang tegas, tidak ingin mau mengalah bahkan terkesan gagah dan berani. Memiliki anak-anak yang berjumlah 5 orang dan meninggal satu orang. Kebetulan, Ayahku adalah satu-satunya putra dalam kehidupanmu. Ayah selalu berkata “Bersyukurlah memiliki kakek seorang pejuang. Jangan lelah berjuang”.

Hidup dipedalaman kota Solo, Sukoharjo bukan salah satu cara untuk tidak bodoh. Mampu menyekolahkan seluruh anaknya dengan biaya uang pensiunan Veteran Indonesia yang hanya 1,5juta sebulan dahulu. Hebatnya beliau selalu menanamkan pada anaknya untuk selalu mandiri dengan mencari kayu bakar dan berjualan sapi dari kecil. Enaknya zaman itu, semua mudah bahan makanan tradisional bisa ditanam, dipetik dan diolah sendiri.

Saya masih mengingat jelas, mbah kakungku. Bagaimana suasana rumah penuh dengan pajangan fotomu sewaktu berjuang. Bahkan selalu ada foto Bung Karno ditengah fotomu dan istri. Diatasnya bertengger Pancasila dan background merah putih, Bendera Indonesia. Rasanya seperti harus memahami dan cinta Indonesia ketika dirumah. Aku masih mengingat jelas semuanya walaupun tidak pernah menengok sejak kepergianmu september 2009 lalu.

Kebetulan sekali, Agama kita berbeda. Mbah kakungku Non-Islam dan Istrinya Islam. Namun sesuatu hal yang aku pahami sekarang adalah agama bukan jadi penghalang kesatuan. Justru sebagai simbol keselarasan rakyat Indonesia kala itu. Setiap lebaran semua anak-anaknya berkumpul dan cucu-cucunya termasuk saya. Dikala itu, mbah selalu mengajari pelajaran sejarah dan memberikan pengetahuan soal Pejuang Muda Indonesia dan Veteran Indonesia.

Namun, sayang sekali. Saat itu, kami cucu-cucunya belum mengerti sepenuhnya mengenai itu. Yang kami banggakan hanyalah mbah kami seorang pejuang dan membela rakyat Indonesia. Saat itu kami hanya mengerti sejarah yang dicetak dari Buku Sejarah kami saja. Bukan pada cerita yang ternyata setelah kami menelaahnya kembali, Itu menyenangkan untuk disimak dan didengar. Kami bangga memilikimu.

Terimakasih sudah mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya.

Terimakasih sudah menjadikan kami semua orang yang berpendidikan.

Terimakasih sudah berlaku tegas ketika kami bertengkar sewaktu kecil.

Terimakasih sudah menjadi pahlawan yang sejati dalam keluarga.

Terimakasih untuk semua perhatianmu.

Terimakasih, Pejuangku.

Hidup Perjuangan, Hidup Veteran Indonesia.

Salam Sayang,

Cucumu dari anak laki-laki satu-satunya yang kerap dipanggil “Endri” bukan Indri.

Anak laki-laki yang dibesarkan dengan didikan militer. Mampu sekolah dengan baik dan benar. Mampu menjadi sarjana di Univertas Veteran karena beasiswa dari ayahnya. Semoga kelak aku dapat berguna bagi keluargaku.

(Mengenang Kepergian mbah kakung – September 2009)