1403 MDPL.

Sejalan dengan hati dan nuraniku, aku memberanikan diri untuk mengikuti jejakmu saat itu. Sejadinya aku tidak pernah mengikuti kegiatan liar semacam ini, aku bukan anak yang mandiri bahkan disiplin pada diri sendiri. Aku berusaha mengikuti dan memberikan yang terbaik untuk dirimu juga tantangan lebih bagi jiwaku sendiri. Sejujurnya tantangan paling berat adalah menjadi orang lain untuk orang yang kita cintai.

Saat hari itu tiba aku sudah bersiap. Aku bersiap untuk tidak mengulangi kesalahanku yang kemarin. Aku berusaha untuk pergi lebih awal dan sendirian tanpa dibantu seorang teman. Aku ingin menunjukkan apa yang kamu telah berikan sudah cukup membuatku berubah lebih baik daripada yang kemarin. Saat itu aku menunggu hasil yang aku sendiri hanya bisa pasrah pada Tuhan akibat ternyata diriku sendiri lemah—akan cintamu.

Kenyataannya, aku melakukan kesalahan lagi. Angkutan umum yang aku naiki sangat tidak tepat waktu. Bahkan aku hampir saja meninggalkan impianku yang kedua hanya karena terlambat. Sejatinya kamu adalah matahari kala itu, berusaha menunggu dan menungguku yang memang tidak mungkin untuk datang cepat. Membawaku bersama motor beat kesayanganmu dengan sangat cepat lantaran yang sudah naik keatas membutuhkan logistik yang kamu bawa denganku.

Bagai manusia yang tak luput akan kesalahan, aku melakukan kesalahan lagi. Jalanku terlalu lamban dan kakiku sudah beku untuk memulai perjalanan malam hari tanpa orang lain, hanya ada aku dan kamu. Namun ada rasa bahagia yang tak dapat ku-ucapkan juga. Kamu seperti ayah, yang berusaha menerangi jiwa keresahan anak-anaknya ketika gundah. Bahkan kamu seperti bunda, yang berusaha memberikan kehangatan dalam dinginnya jiwa.

Kita sudah berada diatas. Impian keduaku berhasil. Aku membawakan tenaga dan usahaku dalam langkahmu dalam 1403 mdpl. Walaupun aku memahami yang aku lakukan bukan diriku—tapi demi dirimu. Namun, aku berusaha menjadi diriku sendiri ketika berada bersamamu. Kita ada bukan karena orang lain aku rasa, aku paham jika kita ada karena Tuhan mempertemukan dalam satu waktu.

Malam semakin kelam. Langit semakin gelap dan terasa dingin menusuk rusuk sendiri. Tapi lagi-lagi aku bersalah karena tidak bisa tidur karena terlalu dingin. Aku melihat kamu masih terjaga diluar sana. Ketika aku mencoba berbicara kamu berusaha mengajakku sedikit melihat keluar walaupun dingin. Kaki dan tanganku sampai berwarna putih dan tidak terlihat darah disekelilingnya.

Ternyata, milky way ditengah hujan adalah pelipur lara. Aku menyetel lagu kesukaan kita, Cahaya dari Tulus. Aku sendiri menyukai lagunya karena liriknya sangat menyentuh diriku. Sedangkan kamu menyukainya karena lagunya pas untuk hatinya saat itu. “Tanpa cahaya kita kosong” katanya. Lagi-lagi aku terbuai romansa yang terjadi kala itu, kekasih yang berusaha mencairkan dinginnya angin gunung ditemani jutaan bintang di lautan langit.

Aku–perempuan yang berbahagia bisa melihat dunia bersama orang yang aku cintai malam itu. Aku tidak pernah menanyakan perasaannya, tapi guratan senyumnya yang terlihat menandakan dia bahagia juga. Bukan karena kita, namun bersama sahabat yang selalu berjuang bersama dalam hidup. Kebahagiaan malam itu tidak akan pernah aku lupakan walaupun takdir tidak bersama kita. Aku rasa aku beruntung dan orang lain belum tentu, aku hanya perlu bersyukur kepada Tuhan.

Semakin pagi terasa dan sudah lama kita berbagi kisah memandangi hamparan bintang. Tidur adalah cara terbaik untuk tidak melupakan malam indah ini seraya pelukan hangat kala itu. Rasanya—aku perempuan paling bahagia untuk kedua kalinya. Walaupun aku tidak mengerti apa perasaannya tapi aku berbahagia atas impianku yang sudah Tuhan izinkan berada padaku.

Seraya bersyukur dalam pelukan yang semakin erat lantaran dingin kala itu – 1 derajat. Maka aku bertasbih pada Tuhanku untuk terus tetap bersama walaupun bukan sebagai kekasih pada akhirnya. Aku paham—kita tidak akan mengetahui jodoh kita siapa, tetapi kita boleh berdoa agar diberikan jodoh yang kita mau. Yang tidak boleh adalah berharap terlalu jauh karena Tuhan melarang sesuatu yang berlebihan.

“Aku mencintaimu……” seraya terlelap hingga fajar menyingsing dan matahari menyapa dunia. Biarkan cinta menjadi urusan masing-masing dan takdir yang menentukan apakah bersama atau tidak. Semoga kita dipertemukan kembali bukan untuk bersedih namun berbahagia.

(Padalarang, 2017)