Di Antara Pelupuk Rindu.

Perkenalkan namanya, Rindu. Ia dibuat dari secercah bayang-bayang harap dan sepasang kisah kasih dua hati yang tenggelam. Tidak sampai disitu, ia selalu berpapasan dengan ketidakadaan dan ketidaknyamanan.
Kadang hidupnya terbelenggu nafas dan jiwa-jiwa yang mengelu-elukan rintihan sayang namun terbuang. Rindu pernah bertanya pada hujan perihal itu semua namun dipatahkan oleh derasnya air yang turun tanpa memikirkan keadaan sekitarnya. Egois katanya.

Seringkali rindu bermimpi dan berkhayal tentang kehidupan yang bahagia pula. Tetapi lagi-lagi semesta mematahkannya katanya “Pohonku saja bisa patah dengan mudah apalagi kamu, Rindu” lalu termenung dibuatnya. Seketika itu, rindu pulang dan memikirkannya cukup lama. Memikirkan apakah yang selalu diciptakan di dunia nya tidaklah selalu indah? Apakah semua akan berakhir sia-sia seperti dirinya? Lantas kemana dirinya harus menggembala dan mencari apa maksud dari rindunya sendiri.

Di perjalanan mencari-cari dengan sangat hati-hati. Rindu mendapati banyak sekali terpaan angin dan jalanan licin seolah-olah dia tidak boleh mencobanya. Padahal Rindu tahu Sang Pencipta menciptakan semuanya sudah beserta penawarnya. Tidak sampai disitu, ditengah jalan dia bertemu kemarau dan gugur. Kemarau bilang “Tidak baik terlalu lama dijalanan karena semua akan hilang pada waktunya, Rin” gugur menyahut “Kalau pohonku sudah patah maka daunnya pasti gugur sepertiku” kembalilah Rindu kerumahnya dengan terlunta-lunta.

Seketika itu, hati Rindu memberikan isyarat. Ada baiknya Rindu tidak selalu mencari sebab dirinya lah jawabannya. Hati ini memberi kabar yang tidak dapat Rindu terima begitu saja. Apakah benar dirinya lah jawaban ketidak-tidak yang dia pertanyakan selama ini? Bukannya dia sudah mencari dan bertanya pada semua yang dia temui. Sekalipun itu sebentar. Rindu masih tidak mengakuinya.

Sampai suatu saat, Doa datang pada Rindu. Doa berkata “Sejenak hendaknya kamu berdoa lebih banyak kepada Sang Pencipta” Rindu masih tercengang namun segeralah dia berdoa. Dan Rindu menemukan sebuah keyakinan dari apa yang diperintahkan Doa padanya. Dalam sepertiga malam seperti ini, aku pernah dihantarkan doa oleh orang-orang yang merindukanku. Termasuk harapan dan kecewa mereka berharap diubah menjadi bahagia, kemarau dan gugur diubah menjadi panen dan lebat begitupula hujan ingin bermanfaat bagi yang mengenai airnya.

Doa Rindu memang tidak banyak kala itu. Dia hanya mengucapkan bahagiakanlah aku, Rindu. Dengan segenap rasa yang bercampur dan bersatu padu menghasilkan kesedihan. Tatkala namaku esok berganti menjadi Gia singkatan dari Bahagia. Yang ternyata dapat aku terima dengan seluruh asa dan jiwa yang berseri-seri tiada tara. Benar kata Doa semua ada pada diriku sendiri. Bahkan Sang Pencipta menciptakanku agar aku kokoh pada diriku. Jika aku meminta apapun, agarnya meminta pada Sang Pencipta lalu berusaha bukan mencari-cari hal ketidakpastian pada hidupku.

Nasehat yang selalu kuingat dari sepucuk doa bersama mereka yang selalu merindukan aku, Rindu.

Ternyata di pelupuk rindu— aku berujung pada kematian dan kebahagiaanku sendiri. Yang tidak pernah dihempas waktu dan dirobohkan angin lalu. Terlelap dalam setiap jiwa-jiwa yang mengeluhkan damai, tentram dan nyaman dalam hidupnya. Selamat menikmati, Rindu.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Blank.

Yang aku lakukan sekarang— membahagiakan diriku sendiri atas apa yang sudah aku perjuangkan.

Aku belum menyerah melakukan apa yang aku bisa selagi masih ada kesempatan untukku.

Aku masih menguatkan diriku sendiri atas apa yang sudah kita lewatkan bersama.

Aku terus berkarya, bermanfaat dan berguna bagi mereka yang membutuhkan bahagiaku.

Sejujurnya— aku melakukan apa yang kau acuhkan jika aku tidak bisa sendiri. nyatanya— hingga detik ini aku masih sanggup membangun tubuhku sendiri untuk hidup yang lebih baik.

Jadi, aku masih berusaha disini. berusaha menjatuhkan diriku pada ketidakpastian dan kekecewaan yang membuahkan kebahagian dilain waktu.

Dan Allah SWT beberapa kali mengabulkan itu.
Tidaklah kita wajib bahagia atas perpisahan yang sudah terjadi? Tidak selamanya menyedihkan bukan.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.