Titik Temu.

Kau bisa saja bertemu aku di suatu tempat yang kau idam-idamkan lama. Menatap syair syahdu dan remang lampu kerlip ibukota. Bertahta keindahan cakrawala megah dibawah gedung lentera merah. Tak lupa, polaroid yang memajang foto kita berdua dengan menggenggam luka.

Kau bisa saja bertemu aku di antara rindu dan cela ragu yang tersimpul pada teh atau kopi di pagi hari atau malam harimu. Mereka selalu mengingatkan dengan baik bagaimana semburat wajah dan goresan titik simpul bahagia tidak bersyarat memadu harapan terpajang jelas. Tak lupa jangan menaruh pemanis didalamnya lantaran kisah kita memang sebentar saja.

Kau bisa saja bertemu aku di antara lampu trotoar dan indahnya pernak pernik malam. Yang pernah kita lewati bersama atau mungkin pernah bertikai bahkan berdamai dengan perasaan masing-masing. Tanpa mengurangi hakikat senja dan kopi seperti anak anak yang lain, lampu trotoar dan jalanan lebih manis menurutmu.

Kau bisa saja bertemu aku pada sebuah rasa makanan yang pernah kita hampiri bersama. Ingat atau tidak, katamu lebih memabukkan makan malam bersamaku daripada alkohol yang kau minum bersama wanita pujanggamu. Menurutmu, aroma khas makanan yang kita suka makan lebih menarik juga dibanding aroma khas lacurmu.

Kau bisa saja bertemu aku dengan peraduan asap rokok yang terus saja kau hisap hingga rasanya tak manis lagi. Mereka mengajarkanmu memakai lebih baik daripada membiarkannya membusuk sepi. Yang harumnya aku tak pernah suka tetapi sudah mencanduiku hingga ikut masuk didalamnya.

Kau bisa saja bertemu aku di rumah yang kau sebut bukan rumahku tetapi surga bagiku. Waktu senja kita selalu menatap lembayung nya dengan hamparan mata binar dan tatapan indah di biliknya. Menurutmu, mencumbui setiap suasana saat itu terpaut indah bukan hanya indah tetapi terlampau indah.

Tetapi, kau tidak bisa menemui aku lagi. Dengan separuh usiamu, dengan sepanjang usahamu, dengan seluruh peluh yang kau keluarkan tanpa sengaja padaku, dengan luruhnya hatiku. Kita bukan kita sekarang. Aku hanya dapat kau temui sebagai mimpi bukan sebagai hidupmu.

Titik temu pun aku relakan disini. Tempat terakhir kita bersanding dan memangkas seluruh keluh kesah hidup bersama namun tetap saja indah.

Bekasi – Tidak dalam kerinduan, 2019.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.