Padamu Yang Akan Hilang.

Bait Peraduan;

Izinkan sebelum aku menghilang daripada kehidupanmu,
Izinkan aku menulis seluruh keresahan, seluruh kesedihan dan seluruh pesakitan yang aku tidak tanggung sendiri ini,
Izinkan aku menangis bersama larik-larik anakku.

Isi Pesan;

Pertama, kisahku bersamamu dimulai daripada kebahagiaan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Yang berlabuh pada lautan, bermandikan intan dan perak laut. Senandung ombak sore itu selalu mengingatkanku padamu, padamu yang mungkin tidak menjadi milikku lagi. Sebagian manusia memilih untuk mengabadikan potret indah namun kita berbeda. Kita bersama-sama untuk mencapai hal yang membahagiakan, bersama dan saling. Saling bersama.

Selanjutnya, aku selalu menghabiskan waktu bersamamu. Dengan seluruh keterbatasanku, seluruh rasa yang mungkin sudah habis untuk orang lain sebelum denganmu, seluruh nafas yang terakhir yang bisa aku rasakan bersamamu. Ruangan itu memberikan hawa yang tidak mungkin akan terlupakan. Sekali lagi, aku tidak berharap akan berhenti ketika aku berhasil mendapatkan apa yang sudah menjadi takdirku. Aku sadar, aku bukan penantian bahkan bukan rumahmu kelak.

Pada kisah-kisah seterusnya, aku masih bersamamu. Mendulang durjana bersama, menitipkan asa pada pelangi, menghujani hati dengan rasa dan mengheningkan cipta pada hati yang terluka. Sama-sama terluka dan bersama bukan perkara yang mudah untuk menentukan bersama. Jauh dari lubuk hatiku yang tidak mungkin akan kamu dengar lagi, aku masih mencintai dengan segala rasaku yang sudah hampir pudar. Aku berpasrah namun tidak akan mendapatkan jawaban sebab Tuhan tahu aku bukanlah akhirmu. Kamu juga bukan akhirku yang berlabuh damai.

Banyak yang masih ingin aku tuliskan dan hempaskan. Salah satunya hari dimana kita pertama kali memadu kasih dengan segala keikhlasan dan ketulusan yang ada. Yang mungkin jika Tuhan ingin kita sama-sama berubah menghasilkan anakku yang nyata. Bukan hanya sekedar angan dan darah yang pilu. Yang tangisannya mungkin tidak hanya membekukan hati namun mendinginkan suasana haru yang akan terjadi. Aku berharap Tuhan tidak sebegitu baik pada kita. Aku berharap kita masih diberikan hidup yang damai dan nyaman dilain hari.

Titik temu yang selanjutnya juga terpaut indah. Aku mencintai alam sebagaimana aku mencintai Tuhanku, namun kala itu aku tidak bisa membedakan kamu dan Tuhanku. Pegunungan yang menjulang, sungai dan suara burung di Gede itu menjadi saksi atas bagaimana aku mencintaimu secara penuh. Segelas kopi yang asapnya mengepul ke udara bersama rokok batanganmu menjadikannya nikmat yang mungkin berubah hina dan tidak menyenangkan bagi orang lain, bagiku tidak. Semuanya nikmat. Meskipun alasku hanya kain tipis yang aku sendiri tidak yakin bisa bertahan hidup disana. Aku yakin, aku percaya padamu berserahku.

Perihal kesakitan yang kita terima, aku menyesal melakukannya. Tetapi aku tidak menyesal untuk berupaya lebih baik daripada sebelumnya meskipun tidak bersamamu kelak. Janjiku tidak akan hilang sebagaimana matahari terbenam dan terbit. Aku berusaha meneruskan hidupku dengan seutuhnya. Mencintai orang lain yang mungkin menjadi takdir dan bagian hidupku. (Mungkin kamupun). Sebagaimana kita ada, percayalah bukan kebetulan bukan juga kesengsaraan.

Secarik Puisi;

Perpisahan ini aku akhiri,
Pada bait-bait yang sepi,
Metaforanya lari,
Sedang bahasanya lupa diri.

Perpisahan ini aku akhiri,
Dengan seluruh pilu dihatiku
Hilang lalu kembali berliku
Ada lalu pergi dengan syahdu.

Padamu yang kemudian hilang,
Aku mencintaimu.
Tetapi Tuhan lebih mencintaimu daripada aku. (P.E)

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s