Sekadarnya.

Terkadang, sepenggal kisah senja terjadi tidak selalu dalam hal yang indah. Mereka selalu berproses kembali ke alam dan berporos pada waktu yang kembali terus menerus hingga sang sangkakala ditiupkan. Yang kita pahami– banyak hal yang perlu kita perbaiki semakin bertambahnya tahun dan banyak hal yang perlu kita hilangkan semakin berkurangnya umur. Barangkali, nasihat dan kritikan terkadang hanya dilewatkan begitu saja dengan mudahnya. Manusia memang selalu khilaf.

Berterimakasihlah kepada waktu yang sudah memberikan kesempatan dalam kesempitan. Meskipun banyak petaka dan keajaiban yang tidak selalu berdampingan namun selaras berkesinambungan. Kita cukup meyakini bahwasannya Allah SWT telah menjadikan kita hidup bukan untuk tidak bahagia. Tetapi bahagia pada waktunya. Sadarilah, kita memiliki banyak ruang kehidupan yang apik untuk dibagikan walaupun tidak sebaik sejarawan dan ilmuwan.


Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Sepertiga Malam.

Detik jam yang berdentang menyeruak lepas
Tandanya sudah dimulai waktu beserah diri bebas
Merebahkan kegelisahan menengadah hampa
Menghirup kesedihan dan menjatuhkan nurani.

Terkesima akan indahnya hari ini—kerinduan
Jiwa-jiwa yang melayang bersama hampa hadistMu
Melayang-layang bagai angin yg sulit dirasakan
bahkan ketika aku bernafas semua hilang.

Buru-buru memakai mukena sebelum lepas
Terlepas terhempas debuan dunia yang tiada akhir
Terhimpit reruntuhan darah yang tiada usai
Maka aku—menguatkan batinku dengan tegap.

Mungkin hanya waktu ini, detik ini, saat ini
Aku berserah diri. Meminta permohonan terakhir
Bagaimana aku hidup, Kemana lagi aku mengadu
Apakah aku mampu memberikan tempat terakhir?

Sejadinya sepertiga malamku brutal. Terlalu fatal
Isakku terlalu jalang dan tak mampu bangun lagi
Seakan-akan tempat kembali sudah dekat
Lebih lebih dari hadist pendekat Allah hanya nadi.

Sekiranya bisa aku memohon dan menangis lagi
Meracau lagi dan menghancurkan imajiMu lagi
Bisakah saja kita dipertemukan tidak hanya sekarang
Tetapi sampai seterusnya hingga ajal mendekat.

Bismillah. Izinkan aku bersamamu hingga ajalku semakin dekat.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Bayang.

Dibatas pantai itu kita bercerita;

Bagaimana kita bisa bertahan hidup meskipun banyak kesalahan didalamnya. Bagaimana kita bisa memberikan cinta dan kasih walaupun diri sendiri masih belum paham artinya. Bagaimana kita mengerti keikhlasan dan ketulusan meskipun kita sering egois pada diri sendiri. Bagaimana kita bisa bangkit dari luka dan sakit meskipun kita masih saja sering membuat orang merasa sakit.

Ternyata, hidup itu selalu adil. Allah SWT pun selalu adil pada doa-doa kita. Bilamana sering-sering mengucap syukur atas rahmat dan karunia-Nya tidak mungkin hidup kita sulit.

Tetapi katamu berbeda. Katamu, Hidup yang diberikan Allah SWT selalu lucu dan penuh peluh. Akhirnya tiada dapat kita mengerti hingga jatuh dan bangun sendiri. Bagiku, semua punya masanya. Ada kalanya aku percaya pada semua takdir Allah SWT sekeji-kejinya. Sekalipun menyakitkan namun berkah itu selalu ada meskipun harus bercerai berai dengan mata dan hiasan wajah.

Sesungguhnya bila kita ikhlas dan tulus untuk mencintai isi bumi, kita mendapatkan apa yang kita mau dengan mudah. Sayangnya kita tidak sebaik itu untuk mendapatkannya. Lantas, pertanyaanku masih sama.

Apakah ini sebuah kebetulan? Ataukah hanya renjanaku yang selalu bertolak padamu. Sungguh, Allah SWT yang Maha Mengetahui apa yang menjadi takdir dan bukan takdir kita. Semoga saja ini hanya kinetika kehidupan yang selalu menjadi sebuah keresahan nurani kita.

Perjalanan kita masih sama—Sepandang namun Berbayang.

Kepulauan Seribu, 2018.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Soulmate.

Dan tepat diatas kapal yang bersandar; perpisahan terjadi lagi. Mungkin tidak dengan hujan yang jatuh membasahi bumi. Dengan musim kemarau yang singgah pada ranting-ranting bakau.

Sesudahnya kita paham. Sesuatu yang berakhir tidak akan teringat namun terngiang bak suara kipas kapal yang mengalun dengan dawai lautan.

Semenjak itu, kita lupa. Bagaimana senja tetap menjadi cantik walaupun sudah terluka? Mungkin kita jawabannya. Sudah jangan banyak berandai-andai hidupmu masing panjang, sayang.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Kita.

[ I. Pandang ]

Sudut ruangan bersama matcha masih saja menemani setiap detiknya keheningan malam itu,
Gemercik air yang turun di veranda itu menunjukkan berapa lamanya matanya melirik jam berdetak,
Tak lupa lantunan musik jazz indah mengalun bersama riuhnya kala itu.

Bersamamu, suara itu tak lagi kudengarkan,
Sejenak larut dalam setiap larik kisah yang didendangkan padaku,
Seolah kita tahu waktu itu tidaklah banyak, bisa saja Tuhan menyudahinya dengan gentar.

Kala itu, pandang tergantikan asa,
Pertemuan itu bukanlah penuh arti melainkan bayangan yang mudah saja sirna,
Pandang tersirat, Mata memikat
Tangan berjabat, Jari yang erat.

Jadi, bagaimana rasa pandangmu hari ini?
Semoga pertemuan yang bersahabat tak seberapa ini berjalan walaupun tak selalu indah.

[ II. Sudut Pandang Kita ]

Dalam sebuah perjalanan kita mengetahui semua orang memiliki prinsipnya masing-masing. Entah sendiri, menyendiri, bersama, bersama-sama bahkan seirama. Wajar bila hawa nafsu dan egoisme mengendalikan setiap wajah yang menjalani sebuah perjalanan dengan indahnya.

Sebagian orang berfikiran berdua akan lebih baik. Tetapi sebagian orang berfikir bersama-sama adalah irama yang baik untuk terus melangkah memperjuangkan hak asasi hidup yang sudah didapatkan alamiah sejak lahir. Semuanya sama pada akhirnya, Belajar adalah langkah terbaik memahami semuanya.

Jadi kamu pilih sendiri apa berdua? Pada dasarnya, Allah SWT sudah memiliki jawaban atas apa yang kamu pertanyakan. Selebihnya biarkan alam yang bekerja dan doa yang berharap.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Dunia Bisa Menjadi Indah.

Dari bawah sudah mulai terdengan riuh-redam suara manusia yang bersahut-sahutan. Semua orang mengamati indahnya pemandangan matahari yang akan terbit yang sinarnya menerobos masuk kedalam sanubari jiwa dan hangatnya menghapus keluh kesah kaku yang sudah dirasakan. Termasuk aku sendiri. Aku menikmati suasana dingin yang merasuk dan menusuk hingga pelipisku beku dan tanganku juga merasa ngilu—kaku.

Awan-awan besar dan terkesan menakutkan berkumpul dan terkadang membentuk suatu bidang yang serupa dengan kehidupan kita. Mereka terus bergerak berubah warna dari hitam gelap menjadi biru langit menjadi merah darah kemudian sempurna! Semua memantulkan cahaya yang mungkin sulit terasa indah pada beberapa waktu memantulkan gambaran-gambaran langit yang masih sempurna. Seketika itu beberapa anak kecil berhamburan, “Dunia bisa menjadi indah sangat indah”. Seraya kembali terus berdoa dan bersyukur.

Bromo-Malang, 2018.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.

Arundaya.

Sukma menyingsing penuh arti
Kirana masih menyembul dengan hati-hati
Lantaran Dewi masih membutakan matanya perlahan namun pasti.

Diksiku semakin lacur dan mati
Diantara sela-sela hati yang menanti jati diri
Mungkin aku kurang mengetahui mata angin kini
Utara, Selatan atau Timur yang di nanti.

Perlahan—waktu mulai terik
Sinarnya lasik terkurung awan berbisik
Senaran syahdu nafas bumi makin menelisik
Hingga dadaku bergetar tak bergeming.

Seraya senja yang mulai padam
Hingar bingar malam yang sudah tertutup aurora dini
Jati diri masih saja masih mencari-cari arti
Lantas, dayaku masih terbaring disini
Menanti fajar yang asri membentang cakrawala dengan penuh mimpi.

Best Regrads,

Rislita Nindya Indriyani.